Tampilkan postingan dengan label wisata sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2009

Rumah Adat Kudus

Rumah Adat Kudus merupakan salah satu rumah tradisional yang mencerminkan perpaduan akulturasi kebudayaan masyarakat Kudus. Rumah Adat Kudus memiliki atap yang disebut “Joglo Pencu”, dengan bangunan yang didominasi seni ukir empat dimensi (4-D) khas kota Kudus yang merupakan perpaduan gaya seni ukir dari budaya Hindu (Jawa), Persia (Islam), Cina dan Eropa. Rumah ini diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 1500-an Masehi dengan 95% kayu Jati asli (Tectona grandis).

Rumah aAdat Kudus ini sekarang berada di kompleks Musium Kretek, Ds. Getas Pejaten No. 155, Kecamatan Jati, Kota Kudus.

Keistimewaan Rumah Adat Kudus



Keunikan dan keistimewaan Rumah Adat Kudus tidak hanya terletak pada keindahan arsitekturnya yang didominasi dengan seni ukir kualitas tinggi, tetapi juga pada kelengkapan komponen-komponen pembentuknya yang memiliki makna filosofis berbeda-beda.

Pertama, bentuk dan motif ukirannya mengikuti pola kala (binatang sejenis laba-laba berkaki banyak), gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain.
Kedua, tata ruang rumah adat yang memiliki jogo satru/ruang tamu dengan soko geder-nya/tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT bersifat Esa/Tunggal.
Ketiga, gedhongan dan senthong/ruang keluarga yang ditopang empat buah soko guru/tiang penyangga. Keempat tiang tersebut adalah simbol yang memberi petunjuk bagi penghuni rumah supaya mampu menyangga kehidupannya sehari-hari dg mengendalikan 4 sifat manusia: amarah, lawwamah, shofiyah, dan mutmainnah.
Keempat, pawon/dapur di bagian paling belakang bangunan rumah.
Kelima, pakiwan (kamar mandi) sebagai simbol agar manusia selalu membersihkan diri baik fisik maupun ruhani.
Keenam, tanaman di sekeliling pakiwan, antara lain: pohon belimbing, yang melambangkan lima rukun Islam; pandan wangi, sebagai simbol rejeki yang harum/halal dan baik; bunga melati, yang melambangkan keharuman, perilaku yang baik dan budi pekerti luhur, serta kesucian.
Dan ketujuh, tata letak rumah yang menghadap ke arah selatan mengandung makna agar si pemilik rumah seolah-olah tidak “memangku” Gunung Muria (yang terletak di sebelah utara), sehingga tidak memperberat kehidupannya sehari-hari.

(Bag. dalam Rumah Adat Kudus)

Selain itu, tatacara perawatan yang dilakukan oleh penghuni Rumah Adat Kudus juga merupakan kekhasan tersendiri yang mungkin tidak bisa dijumpai di tempat-tempat lain. Jenis bahan dasar yang digunakan untuk merawat Rumah Adat Kudus adalah ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Dengan mengoleskannya secara berulang-ulang, ramuan ini terbukti efektif mampu mengawetkan kayu jati, sebagai bahan dasar Rumah Adat Kudus dari serangan rayap (termite) dan juga membuat permukaan kayu menjadi lebih bersih dan mengkilap.

Seiring berjalannya waktu, jumlah Rumah Adat Kudus semakin berkurang, karena setelah sang pemilik meninggal dunia, banyak ahli warisnya yang kemudian menjual rumah tersebut. Didasari atas kekhawatiran akan punahnya warisan budaya yang bernilai sejarah tinggi ini, oleh karena itu pada tahun 1828 M para pengusaha di Kudus memrakarsai pembangunan kembali Rumah Adat Kudus di kompleks Musium Kretek.

Minggu, 19 Juli 2009

Galeri yang Terlupakan...

Inilah salah satu identitas kota kudus sebagai kota kretek yang seharusnya patut kita banggakan.


Musium Kretek yang terletak di Ds. Getas Pejaten No. 155, kecamatan Jati, Kabupaten Kudus merupakan salah satu identitas kota Kudus sebagai Cigarette City (hohoho...Kota Kretek maksudnya...he3x). Seperti yang telah kita ketahui bersama musium ini berisi segala macam pernak – pernik yang dipake untuk buat rokok pada jaman dolo sampe bermacem – macem jenis rokok dari jamannya Rajanya Rokok Ki Notosemito sampe rokok – rokok zaman sekarang. Di sini juga ada diorama (miniatur) proses pembuatan rokok pada zaman dolo, alat – alat yang digunain buat promosi pada zaman dolo, foto – foto dokumentasi perjalanan sejarah rokok – rokok di Kota Kretek ini juga ada.

(Ki Noto Semito, Raja Kretek Kudus)

(Benda2 promosi masa lalu)


(cara promosi masa lalu)

Musium ini juga sering digunain buat observasi dan penelitian (biasanya anak2 SMA yang lagi dikasih tugas Sejarah). Di musium ini juga ada fasilitasnya juga lho, contohnya ada wartel, warung – warung yang siap memanjakan lidah kita dengan masakan – masakan khas kota ini n yang paling penting....Toilet.

Jadi, pokoknya lengkap deh kalo kalian pengen observasi, mengetahui lebih jauh lagi tentang sejarah pekembangan industri rokok yang telah melambungkan kota ini, ataupun cuma sekadar jalan – jalan karena ada tamannya juga.

Tapi sayang keadaan musium ini sekarang kurang mendapat perhatian serius dari pemkab kudus. Bisa dilihat dari keadaan benda – benda yang punya nilai sejarah tinggi itu banyak dihiasi oleh debu – debu kotor. Oleh karena itulah musium ini menjadi seperti “galeri yang terlupakan...”.